image_not_found

AKU SENANG KEBERSIHAN, APAKAH AKU OCD???

Melisa, M.Psi., Psikolog (ruangtumbuh.id)

“Hey, jangan terlalu bersih-bersih amat, kotor dikit aja dibajunya minta diperbaiki. Yaudah sih, kamu tuh OCD ya”. Ucapan ini mungkin terasa tidak asing ketelinga sebagian individu terutama yang menyukai kebersihan. Tapi, benarkah individu yang menyukai kebersihan pasti masuk dalam gangguan OCD?

Obsessive – Compulsive Disorder (OCD) terdiri dari 2 kata yaitu obsesi dan kompulsif. Obsesi adalah pikiran yang mengganggu karena muncul berulang-ulang secara intensif, persisten, dan tidak terkendali serta sering tidak rasional bagi individu yang mengalaminya. Obsesi ini terasa mendesak dengan frekuensi yang terus-menerus sehingga mengganggu aktivitas keseharian individu. Sedangkan kompulsif adalah perilaku yang berulang dan berlebihan dimana individu yang melakukannya hendak mengurangi kecemasan yang diakibatkan oleh adanya pemikiran obsesif dan bertujuan pula mencegah “malapetaka” yang mereka pikirkan akan terjadi.

Kita ambil salah satu contoh OCD yang berkaitan dengan kebersihan, individu yang mengalami mungkin saja memiliki pemikiran obsesif bahwa dirinya takut terkontaminasi virus oleh lingkungan sekitar. Pemikiran ini tidak hanya terjadi sekali tetapi berulangkali yang menyebabkan individu melakukan perilaku kompulsif dengan mencuci tangan berulangkali dengan tujuan membuat dirinya terhindar dari kontaminasi virus (dianggap sebagai malapetaka) atau hal-hal buruk lainnya dari lingkungan sekitar. Mungkin setelah mencuci tangan, individu merasa ragu akan kebersihannya dan kembali mencuci tangan, begitu seterusnya. Hal ini tentu mengganggu aktivitas kesehariannya karena fokus pemikirannya hanya tertuju pada ketakutan akan kontaminasi virus (Davison, Neale, & Kring, 2004)

Mengapa individu dapat mengalami OCD? Coba kita berkenalan dengan istilah “yedasentience” yaitu perasaan subyektif yang tahu dengan titik “merasa cukup”. Individu dengan OCD diketahui memiliki kekurangan pada “yedasentience” dimana mereka gagal untuk mendapatkan perasaan “cukup/ selesai” dan membuat mereka sulit untuk menghentikan pemikiran maupun perilaku berulangkali yang muncul. Faktor lain penyebab munculnya OCD adalah keraguan akan memori yang dimilikinya sehingga menyebabkan mereka melakukan ritual misalnya mencuci tangan secara berulangkali. Berikutnya faktor genetik yang juga memengaruhi individu dapat mengalami OCD. Perlu ditekankan individu yang mengalami OCD dapat disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda sehingga tidak ada satu faktor mutlak yang dapat mendefinisikan penyebab dari OCD itu sendiri.

Lalu, kembali merujuk pada judul diatas ketika individu menyukai kebersihan apakah masuk dalam kategori OCD? Harusnya sudah dapat terpecahkan pertanyaan ini. Artinya bila individu memang menyukai kebersihan sehingga seringkali beberes rumah atau membersihkan kotoran yang ada disekelilingnya namun tidak memiliki pemikiran obsesif (terus berulang dan persisten) dan perilaku kompulsif (berulangkali membersihkan guna meredakan kecemasannya) serta mengganggu aktivitas kesehariannya karena mengurusi masalah “kebersihannya” saja, maka tidak dapat dikatakan masuk dalam OCD.

Nah, diagnosa ini dapat ditegakkan hanya oleh tenaga profesional dengan serangkaian wawancara dan observasi yang berlangsung. Jadi, tidak boleh self diagnose atau bahkan memberikan label kepada teman-teman disekeliling dengan OCD. Sekalipun nantinya memang kita didiagnosa OCD oleh tenaga profesional, maka akan ada penanganan yang telah dirancang untuk meredakan akar permasalahan OCD yaitu kecemasan yang menghasilkan pemikiran obsesif maupun perilaku kompulsif.

Jadi, jangan ragu ya ketenaga profesional untuk sekedar memeriksakan kondisi kesehatan mental kalian ??

Selamat Bertumbuh…

Referensi :

- American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Edition (DSM-V). Washington : American Psychiatric Publishing.

- Davison, G.C., Neale, J.M., & Kring, A.M. 2004. Abnormal Psychology. United States Of America : John Wiley & Sons. (Twelveth Edition)