image_not_found

AKU SI INTROVERT

Melisa, M.Psi, Psikolog (ruangtumbuh.id)

Setiap individu terlahir unik dan memiliki ciri khas yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya. Faktor kepribadian menjadi salah faktor yang patut dipertimbangkan untuk menentukan keunikan tersebut, dimana kepribadian sendiri adalah seluruh pemikiran, perasaan, perilaku yang disadari maupun tidak disadari yang terbentuk akibat faktor lingkungan maupun pengalaman dan cenderung relatif konsisten selama masa dewasa.

Carl Jung, tokoh psikologi yang berpengaruh besar menerbitkan sebuah buku terkait tipe kepribadian dengan istilah “introvert” dan “extrovert”. Disebutkan bahwa introvert berkutat dengan dunia pikiran dan perasaan dalam diri dan merasa “sudah cukup” dengan rangsangan yang sedikit. Berbeda halnya dengan extrovert berhubungan dengan kehidupan dan kegiatan luar individu serta membutuhkan rangsangan yang lebih banyak dari dunia luar.

Dengan definisi demikian, kedua istilah ini seringkali dilabelkan kepada individu dengan cara “tanpa memandang bulu”. Artinya semua individu yang pemalu, pendiam, tidak mampu bersosialisasi, perenung, dan terlalu banyak berpikir diberikan label “si introvert”. Sebaliknya individu yang periang, bersemangat, pintar berbicara didepan orang lain, energik diberikan label “si extrovert”. Hal ini membuat individu introvert dianggap sebagai kaum kedua yang lemah karena tidak memiliki kekuatan apapun dari berbagai aspek kehidupan. Individu pun berlomba-lomba untuk menjadi pribadi extrovert dan segera menyembunyikan diri mereka seutuhnya agar dapat dipandang positif dan melebur dengan pandangan lingkungan ideal.

Berikut berbagai miskonsepsi terkait dengan introvert :

1. Introvert adalah individu yang pemalu

Introvert dan pemalu memang memiliki kesamaan terkait dengan keterbatasan interaksi sosial. Perbedaannya adalah individu pemalu biasanya ingin terlibat dalam lingkungan sosial tetapi ada hambatan dari diri (ketakutan untuk memulainya). Tetapi introvert adalah individu yang mampu bersosialisasi dalam lingkungan, hanya saja mereka membatasi diri dalam lingkungan sosial yang intensif. Hal ini dikarenakan mereka “merasa cukup” dengan rangsangan yang sedikit.

2. Introvert tidak memiliki teman

Merujuk pada ketertarikan dengan dunia pemikiran dan perasaan dalam diri sendiri membatasi jumlah energi untuk bersosialisasi individu introvert sehingga merasa cenderung memiliki satu atau dua (sedikit) teman dekat daripada lingkaran sosial yang besar. Hubungan yang dijalani pun akan lebih mendalam daripada sekedar “dipermukaan” saja.

3. Introvert tidak mampu menjadi pemimpin

Introvert sering bekerja lebih lambat dan cermat serta berfokus pada satu tugas dalam satu waktu dengan daya konsentrasi yang lebih tinggi. Mereka lebih “kebal” dengan godaan dari lingkungan. Sedangkan extrovert cenderung menangani tugas dengan cepat, pengambilan keputusan lebih cepat, berani menanggung risiko, dan nyaman mengerjakan banyak tugas sekaligus. Baik introvert maupun extrovert bekerja dengan cara berbeda sehingga konteks kemampuan menjadi pemimpin disesuaikan dengan konteks lingkungan tempat kerja dan segala struktur maupun budaya yang terlibat didalamnya.

Miskonsepsi ini kerap membuat individu introvert terasa “kerdil” untuk menjadi sosok individu yang luar biasa sehingga malu menampilkan diri sesungguhnya didalam lingkungan karena munculnya sistem extrovert ideal. Kepribadian extrovert menjadi standar ideal yang dikejar untuk mencapai kesuksesan. Padahal apabila seorang introvert mempunyai edukasi mendalam atas dirinya sendiri, pemahaman yang besar akan keunikan yang dimiliki, mereka akan lebih mampu untuk memaksimalkan keunikan yang ada untuk menjadi individu yang unggul versi mereka bukan versi orang lain.

Pahami bahwa setiap kepribadian memiliki kekurangan dan kelebihannya tersendiri serta cara kerjanya untuk menjadi pribadi yang unggul sesuai dengan konteks lingkungan, tempat mereka berada.

Selamat Bertumbuh…