BE THE ONE TO LOVE ME MORE….
Citra Hati Leometa, M.Psi, Psikolog (ruangtumbuh.id)
Kita selalu berharap hidup dalam sebuah kesempurnaan, dimana kesempurnaan dibayangkan sebagai sumber kebahagiaan, kenyamanan dan keamanan dalam berbagai kondisi. Namun dengan bertambahnya usia, berubahnya lingkungan maupun alam sekitar dan semakin luasnya kehidupan sosial, maka akan sulit untuk tetap mengontrol kehidupan kita untuk tetap membuat hidup kita tetap sempurna. Ketidaksempurnaan mungkin diawali dari hal yang paling sederhana bahwa kita memiliki ekspektasi terhadap suatu hal atau suatu kondisi, namun tidak dapat terpenuhi karena ada faktor lingkungan ataupun faktor eksternal lain yang mempengaruhi tercapainya harapan itu. Kemudian ketidaksempurnaan mungkin disebabkan adanya tuntutan ataupun keinginan orang lain yang mempengaruhi harapan dan tujuan diri kita atau kesempurnaan juga dapat terhalang oleh adanya rintangan di dalam diri kita. Lalu apakah akibatnya bila ketidaksempurnaan, hambatan, tuntutan atau ketidakbahagiaan terjadi??
Tentunya menimbulkan kekecewaan, kesedihan dan bahkan luka di dalam diri yang mungkin tidak mudah untuk hilang atau disembuhkan atau mungkin malah mencoba sedemikian rupa untuk menjaga keseimbangan diri kita agar keadaan ataupun kondisi tampak sempurna bagi diri kita. Ada yang mungkin membohongi diri sendiri, membohongi orang yang kita cintai, membohongi lingkungan atau mungkin malah menyimpan luka bagi diri sendiri hingga akhirnya luka itu mengganggu kita ketika kita ingin mengaktualisasi diri, berinteraksi dengan lingkungan atau bahkan diri kita tidak peduli terhadap lingkungan demi untuk melindungi diri kita.
Hakikinya ketidaksempurnaan adalah sebuah keniscayaan, Tuhan menciptakan ketidaksempurnaan bagi umat manusia tentunya ada tujuannya, bukan hanya sekedar sebuah ketidaknyamanan, keterkutukan, ketidakberdayaan, ketidak adilan. Namun ketidaksempurnaan merupakan adalah cara kita mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi dan terus betumbuh. Namun juga tidak sedikit akibat ketidaksempurnan atau penolakan menimbulkan luka yang sulit untuk disembuhkan dan terbawa seiring usia bertambah.
Mencintai ketidaksempurnaan (Love for Imperfect Things) adalah karya Haemin Sunin, dimana semasa hidupnya dihadapkan pada berbagai hal ketidaksempurnaan, baik ketidaksempurnaan yang berasal dari tuntutan lingkungan, kondisi finansial maupun hambatan-hambatan diri yang menyebabkan dirinya tidak mudah untuk mendapatkan kesempurnaan. Namun di dalam bukunya beliau mencoba untuk membuka diri kita untuk mencari cara untuk mensiasati ketidak sempurnaan yang berasal dari sesuatu yang masih bisa kita atasai atau kontrol, menerima ketidak sempurnaan yang atas sesuatu yang diluar kontrol kita, beradaptasi dengan ketidak sempurnaan dan menerima ketidak sempurnaan.
Pertama-memelihara diri. Haemin mengajarkan agar kita menjaga diri kita sendiri, melindungi diri kita. Melindungi diri adalah hak dan kewajiban individual dan kita pun harus memiliki pengetahuan maupun cara bagaimana melindungi diri sendiri. Diawali dengan mengenal diri sendiri, mengetahui apa yang kita inginkan, menetahui bagaimana cara mendapatkan apa yang kita inginkan dan mengatasi hambatan-hambatan atas tujuan dan harapan kita. Berusahalah nyaman dan menerima dengan diri dengan seutuhnya, karena dengan diri yang nyaman dan percaya diri akan lebih memudahkan diri untuk mengekspresikan diri dengan segala potensinya.
Kedua-keluarga. Keluarga adalah orang-orang yang terdekat dengan diri kita, terutama ayah dan ibu. Orang tua adalah individu pertama yang diharapkan oleh anak menjadi sumber cinta kasih dan dukungna bagi anak. Namun tidak semua orang memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya, disebabkan oleh pola interaksi yang terbentuk ataupun harapan yang kita sematkan pada diri keluarga kita. Namun ingatlah bahwa ada begitu banyak aspek kehidupan yang tidak bisa kendalikan bahkan bila itu adalah keluarga kita. Apabila kita memiliki harapan terhadap orang tua, anak, pasangan, keluarga dan teman-teman, sebetulnya kita hanya bisa mencintai, mendoakan, memperhatikan mereka. Kita tidak bisa mengendalikan dan mengontrol mereka selamanya, bahkan demi tujuan yang kita maksud baik untuk mereka. Biarlah mereka mempertanggungjawabkan pilihan mereka sendiri. Bila kita terus melindungi keluarga kita dari bahaya dengan membuatkan mereka pilihan, mereka tidak akan pernah belajar untuk bisa menerjang badai kehidupan. Cukup bantulah dan bimbinglah mereka agar kuat menerjang badai kehidupan.
Ketiga-mendengarkan. Mendengarkan adalah sebuah ungkapan cinta. Seberapa besarkah kita menghargai eksistensi diri kita sendiri, seberapa besarkah kira menghargai eksistensi orang-orang yang kita sayangi? Apakah mereka merasakan bila kita mengakui eksistensinya? Bukalah hati dan dengarkan merka dengan penuh empati, itu adalah pengakuan atas eksistensi mereka. Dengarkanlah mereka dengan segala sudut pandangnya yang mungkin sudut pandang yang belum pernah kita kenal dan hargailah mereka dengan segala sudut pandangnya. Mereka akan jauh lebih kuat menghadapai berbagai masalah bila ada orang-orang yang cukup peduli untuk mendampingi mereka disaat menghadapi masalah. Cintailah mereka dengan bagaimana mereka ingin dicintai, bukan mencintai mereka dengan cara kita mencintai. Jangan lupa mengajarkan mereka untuk mencintai orang tua dan orang lain dengan tulus, tanpa syarat.
Keempat-hubungan. Hubungan merupakan suatu kondisi yang tidak dapat dihindari didunia. Namun terkadang hubungan pun merupakan sesuatu yang sulit karena dibutuhkan dua orang untuk membuat suatu hubungan berhasil dan bisa dirusak oleh orang ketiga. Oleh sebab itu hubungan merupakan sesuatu yang cukup rumit untuk dijaga. Tidak semua hubungan interpersonal dengan orang lain, terutama orang terdekat bisa berjalan dengan baik dan sempurna. Faktor terbesar yang merusak hubungan interpersonal manusia adalah asumsi yang diikuti oleh pikiran negatif. Terkadang asumsi negatif yang dibentuk merupakan proyeksi ketakutan kita terhadap orang lain, mungkin ketakutan karena kita merasa tidak sempurna, merasa melakukan kesalahan, merasa tidak berbuat baik kepada orang lain atau lainnya. Menurut Seongeheol yang dipaparkan oleh Haemin Sunim carilah kedamiaan dari dalam diri dengan cara tidak menyimpan pikiran negatif.
Kelima-keberanian. Keberanian dalam hidup, salah satu yang utama adalah keberanian untuk membuat pilihan-pilihan dalam hidup dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan tersebut. Setiap pilihan-pilihan yang diambil biasanya memiliki kesesuaian dengan impian yang ingin kita miliki. Namun tentunya untuk meraih impian tersebut jalannya tidak akan selalu sempurna. Pasti akan ada hambatan yang terjadi dan tidak jarang hambatan tersebut berasal dari orang-orang terdekat dalam hidup kita dengan menyarankan kita untuk melakukan pilihan lain yang tidak sesuai dengan keinginan dan diri kita. Setiap manusia hakikatnya bebas dapat mengukir takdirnya sendiri, terbebas dari harapan orang tua ataupun masyarakat. Sekalipun gagal belajarlah, belajarlah dari kesalahan dan cobalah cara lain untuk mengatasinya dan bila gagal, gagallah dimasa muda. Selama kita masih bertanggung jawab atas konsekuensi pilihan-pilihan, ikutilah kata hati kita.
Keenam-penyembuhan. Penyembuhan hampir setiap manusia memiliki luka batin yang dalam. Luka batin berisi perasaan-perasaan yang terkait dengan emosi-emosi negatif yang membuat perasaan tidak nyaman. Memaafkan bukanlah langkah awal untuk kitab isa menyembuhkan diri dari luka batin, namun diawali dengan menyadari dan menerima perasan kita apa adanya. Selanjuntya melindungi diri kita dengan menciptakan batas yang jelas antara kita dengan orang lain, agar kita memiliki kesempatan untuk sembuh. Ketika luka masa lalu terlalu menguasai pikiran kita, cobalah untuk mengambil jarak dengan emosi kita, lalu pahami emosi kita. Kiranya apa yang ingin emosi kita lakukan, apakah memarahi atau membalikkan kondisi supaya semua menjadi baik kembali. Kemudian cobalah untuk melihat dan memahami lebih dalam mengapa orang lain menyebabkan luka pada diri kita. Orang yang bahagia, nyaris tidak mungkin menyakit orang lain dan lihatlah dibalik penderitaan mereka. Tujuan melakukan itu bukan untuk mengesampingkan perilaku salah mereka, melainkan untuk mengurangi luka emosi kusut yang menahan hidup dan menghalangi kita untuk menjalani hidup secara utuh. Dengan kata lain, kita memaafkan bukan untuk orang jahat kepada kita, melainkan untuk membebaskan diri kita dari masa lalu.
Ketujuh-pencerahan. Terkadang kita menjalankan hidup ini dengan terlalu cepat, apakah karena mengikuti arus tuntutan dari luar diri kita atau mungkin diri kita menuntut hidup kita untuk berputar lebih cepat? Dimana tuntutan untuk cepat membuat kita tidak fokus pada realitas yang ada dihadapan kita. Padalah hal paling penting adalah untuk berada di masa kini dan sekarang, alih-alih terperangkap dalam pikiran kita sendiri membanyangkan kenangan di masa lalu atau ketakutan di masa depan. Sebab pencerahan yang orang-orang cari sesungguhnya berada di masa kini yang seutuhnya. Batin akan menjadi tenang dan fokus pada apa yang kita kerjakan. Helaan nafas adalah jembatan penting penghubung tubuh dan batin, jika nafas tenang maka batin pun akan tenang dan sebaliknya jika batin yang damai akan menghasilkan nafas yang damai. Bila banyak hal yang harus dipikirkan, ambillah jeda untuk tenang hingga akhirnya bisa bernafas dengan damai.
Kedelapan-penerimaan. Umumnya orang akan menyarankan untuk melupakan pengalaman ataupun luka batin di masa lalu. Padahal dengan memaksa melupakan, semakin kita memberikan kuasa pada kenangan itu untuk kita semakin terikat dengannya. Namun yang menjadi masalah bukan kenangannya, tetapi emosi penyesalan, kekecewaan, amarah atau frustrasi yang ditimbul saat mengingatnya. Kita perlu melatih memisahkan antara kenangan dan emosi yang ditimbulkan karena kenangan sendiri bukanlah masalah, tapi emosi yang berhubungan dengan emosi itu yang menjadi masalah. Terimalah diri kita apa adanya, itulah awal untuk memutus emosi tidak nyaman dengan kenangan kita. Pada akhirnya kita akan meninggalkan emosi kita dan melihatnya dengan penuh kehangatan dari luar. Saat itu terjadi, kita akan lebih mudah memisahkan diri dan melihat emosi kita dengan lebih tenang, seolah-olah emosi itu milik orang lain. Saat batin kita tenang dan kita mampu melihat emosi dari luar, kita akan merasakan kehadiran kesunyian dalam diri kita yang penuh kasih yang mengamati emosi itu dengan tenang. Jika kita orang religius, kesunyian itu akan terasa seperti kehadiran Tuhan atau sosok agung lainnya.
Selamat Bertumbuh…