image_not_found

KELOLA FINANSIAL DENGAN MINDFUL SPENDING

Hesty Novitasari, M.Psi, Psikolog (ruangtumbuh.id)

Berbicara mengenai uang sangatlah luas, karena tak dapat dipungkiri uang merupakan hal yang memegang peran penting dalam aspek kehidupan. Uang tak hanya sebagai media transaksional semata, namun erat kaitannya dengan kondisi psikologis dan emosi seseorang. Hal ini tak terlepas dari perbedaan persepsi terhadap uang, termasuk bagaimana cara berpikir tentang uang, memaknai uang, serta menentukan cara mengelolanya. Ada sebagian orang yang melihat uang sebagai sebuah “kebebasan” sehingga untuk memenuhi rasa puasnya maka cenderung membelanjakan uang secara impulsif. Ada pula yang menganggap uang sebagai “kompensasi” bagi diri sendiri, sehingga terkadang menghabiskannya di luar rencana. Selain itu, ada pula sebagian orang melihat uang sebagai “kekuatan”, sehingga tak ragu menghabiskan uangnya untuk sekadar menunjukkan kelebihan yang dimilikinya pada orang lain.

Sementara itu, mengutip dari salah satu buku karya Morgan Housel, Psychology of Money terdapat sebuat kalimat yang perlu menjadi pengingat bahwa “Menghabiskan uang untuk menunjukkan kepada orang-orang berapa banyak uang yang Anda miliki adalah cara tercepat untuk mengurangi uang yang dimiliki”. Jadi, sebesar apapun pendapatan dan kekayaan yang dimiliki, dirasa tidak akan pernah cukup memenuhi kebutuhan dan memenuhi kepuasan hidup seseorang jika kita tidak tahu cara mengatur keuangan dengan baik.

Mengatur keuangan adalah sebuah keterampilan hidup untuk mencapai kesuksesan, sehingga tidak hanya menitik beratkan pada kecerdasan dan kemampuan berhitung sebagai parameternya, melainkan juga melihat dari sisi bagaimana seseorang menyikapi, mengelola, dan memaknai uang tersebut untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraannya.

Seperti yang kita ketahui, akses media yang begitu luas menyajikan beragam informasi mengenai bagaimana cara dan strategi dalam mengelola uang, namun tetap saja mengelola keuangan secara efektif masih menjadi tantangan bagi sebagian orang. Terlebih pada kondisi pasca pandemi Covid-19 yang turut mempengaruhi tatanan perekonomian dan perubahan gaya hidup di masyarakat. Hal ini tak terlepas dari penggunaan media online dan digitalisasi sebagai bagian dari media transaksi pembelian dan investasi, serta metode pembayaran yang mempengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Demikian pula di Indonesia, transaksi pembelian online dan penggunaan dompet digital yang disertai dengan adanya fasilitas penundaan pembayaran maupun pinjaman, memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam melakukan pembelajaan, sehingga mempengaruhi pola konsumsi yang mana seseorang dapat berbelanja di mana saja dan kapan saja. Dampak positif dari penggunaannya adalah sederhana dan praktis. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan aplikasi ini turut mengubah gaya hidup, termasuk perilaku konsumtif dan kendala dalam mengendalikan pengeluaran.

Berbicara mengenai mengelola pengeluaran dan pembelajaan tidak terlepas dari sisi psikologis dan emosional seseorang. Misalnya saja, ketika berbelanja terdapat perasaan bahagia, karena disaat itu turut dipengaruhi endorfin dan dopamin, dan kemungkinan setelah beberapa saat perasaan tersebut bisa jadi berubah menjadi rasa bersalah dan cemas segera setelah melakukan pembelian. Oleh karena itu, perlu sekali untuk mengetahui latar belakang dan motivasi pengambilan keputusan dalam melakukan pengeluaran, maka akan lebih mudah untuk membuat pilihan pengeluaran yang tepat. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan sebuah istilah "mindful spending", yaitu bagaimana kita bisa menyadari kondisi saat ini, sehingga dapat menentukan keputusan yang tepat dalam mengeluarkan atau membelanjakan uang.

Seringkali banyak hal yang membuat terlena dalam membelanjakan uang, antara lain banyaknya promosi, mudahnya akses untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal yang diinginkan, kemudahan dalam bertransaksi, serta adanya fasilitas-fasilitas pinjaman atau penundaan pembayaran yang dapat digunakan saat berbelanja. Tidak heran jika membangkitkan kesadaran dalam membelanjakan uang merupakan tantangan bagi sebagian orang.

Membangun pembiasaan “mindful spending” perlu melihat apa yang ingin difokuskan dan apa yang menjadi latar belakang dalam membelanjakan uang. Adapun caranya dengan bertanya kepada diri sendiri, khususnya menggunakan pertanyaan spesifik tentang tujuan keuangan dan keinginan hidup yang ingin dicapai. Misalnya, “Kemana perginya uang saya?, Apa yang saya suka untuk menghabiskan uang dan mengapa?, Apa yang sangat dibutuhkan saat ini dan mengapa? Berapa banyak yang ingin saya sisihkan untuk pembelian atau biaya impulsif, seperti belanja pakaian, belanja cemilan, nongkrong, hiburan, parkir? Berapa yang saya perlukan untuk pengeluaran tetap, seperti tagihan dan sewa?, Berapa banyak yang ingin saya investasikan dan simpan, dan mengapa?. Dengan menjawab pertanyaan tersebut secara jelas dan rinci, maka akan memudahkan kita untuk memahami niat, perasaan dan motivasi kita terhadap uang dan memiliki kesadaran diri yang lebih baik dalam memaknai dan mengelola uang.

Disamping itu, menerapkan pembiasaan “mindful spending” dapat membantu kita agar dapat lebih yakin dan menghindari munculnya penyesalan saat membelanjakan uang. Terdapat sebuah metode yang dapat diaplikasikan agar lebih menyadari dalam membelanjakan uang yaitu dengan metode PEAR (Awaris):

- Pause (Berhenti sejenak)

Sebelum Anda memutuskan untuk melakukan pembelanjaan, coba berhentilah sejenak, ambil waktu beberapa saat dan pikirkanlah terlebih dahulu.

- Examine (Pertimbangkan)

Ajukan pertanyaan pada diri Anda sendiri, seperti: Apakah saya membutuhkannya? Apakah saya akan menggunakannya? Apakah ini bermanfaat dalam jangka panjang?

- Accept (Menerima)

Mencoba untuk menerima perasaan tentang pembelajaan tersebut. Misalnya, ada kemungkinan kalau merasa kecewa jika tidak terlalu membutuhkan barang yang diinginkan tersebut.

- Respond (Menanggapi)

Jika sudah memutuskan untuk melakukan mengeluarkan atau membelanjakan uang, maka tanyakan kembali ke diri sendiri, “Apakah akan membelinya sekarang atau menunggu dan menabung terlebih dulu?”, atau jika tidak ingin melakukan pembelian, “Apakah akan menambahkan uang yang akan dibelanjakan ke tabungan?” Yang terpenting, apapun yang diputuskan, hindari untuk menyalahkan diri sendiri atas keputusan yang telah diambil.

Mengelola keuangan adalah keterampilan yang dipelajari sepanjang hidup dengan ilmu yang terus berkembang dalam situasi yang beragam. Karena itulah, kemampuan dalam mengendalikan diri saat mengelola uang sangatlah penting. Dengan adanya tips diatas, diharapkan bisa membantu untuk mengelola uang dengan bijak. Namun demikian, jika masih merasa kesulitan dalam melakukannya, maka cobalah untuk memfokuskan kembali ke tujuan awal dalam mendefinisikan dan memaknai uang.

Selamat Bertumbuh…

Referensi :

- Hammond, Claudia. (2016). Mind Over Money: The Psychology of Money and How to Use It. New York City: Harper Perennial.

- Housel, Morgan. (2020). Psychology of Money. Great Britain: Harriman Housel.

- https://awaris.com/the-realism-of-mindfulness/

- Wiadi, Iyus; Sajili, Mohamad. (2023). Analisis Dampak Covid-19 terhadap Perilaku Konsumen Generasi Milenial dalam Menggunakan Aplikasi Dompet Digital. Jurnal Ideas Vol. 9 No.1 Tahun 2023 edisi Februari.