image_not_found

MENGELOLA CIRCLE OF CONTROL

Ristriarie Kusumaningrum, M.Psi, Psikolog Klinis Anak dan Remaja (psikolog @ruangtumbuh.id)

Mengelola Circle of Control untuk Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik


Ristriarie Kusumaningrum, M.Psi, Psikolog

Psikolog Klinis Anak dan Remaja


Memasuki tahun baru pada umumnya akan membawa banyak harapan, pertanyaan, kekhawatiran, pengambilan keputusan, dan sebagainya. Akan ada banyak hal yang ingin kita raih dan gapai. Kesemua itu memerlukan kepastian dan keputusan, tindakan apa yang akan anda lakukan. Sebagai contoh, biasanya saat tahun baru banyak orang membuat resolusi atau rencana tindakan yang akan dilakukan. Apakah kalian salah satunya yang membuat resolusi ? Jika iya, maka biasanya akan ada pertimbangan yang dipikirkan dan dianalisa sedetil mungkin. Bisa jadi resolusi yang kita buat hanya beberapa atau bahkan ada yang tidak terlaksana sama sekali. Apa yang membuat seperti itu ? Seringkali kita membuat rencana hanya sebatas keinginan tanpa memperhatikan dengan seksama hal-hal yang penting, yang berujung banyak hal terjadi di luar kendali anda. Padahal saat membuat rencana, memastikan keputusan apa yang hendak dilakukan itu penting. Maka dari itu memerlukan pertimbangan matang dan penentuan prioritas. 

Menentukan prioritas untuk mengambil keputusan terkadang sulit, namun terkadang mudah. Hal ini berkaitan dengan perubahan yang terjadi. Menurut Stephen Covey (1989), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat kita hendak mengambil keputusan. Salah satunya adalah menentukan hal-hal apa saja yang menjadi perhatian, dampak yang terjadi, hal yang dapat dikendalikan, maupun kekhawatiran diri akan hal-hal di luar kendali. Hadirlah pertimbangan-pertimbangan, baik untuk hal-hal yang bisa kita kendalikan dan tidak. 

Dapat dikatakan sejak terjadinya pandemi, maka banyak orang yang merasakan perubahan drastis dan hal ini tentu saja mempengaruhi pengambilan keputusan. Menurut Covey (1989), saat kita hendak mengambil keputusan maka ada yang namanya Circle of Concerns, Circle of Influence, dan Circle of Control. Bayangkan ada 3 lingkaran. Lingkaran pertama berupa Circle of Control yang isi di dalamnya berupa hal-hal yang bisa anda kendalikan sesuai keinginan atau diatur sedemikian rupa. Lingkaran kedua, berada di luar lingkaran pertama, yakni Circle of Influence yang berisikan berbagai hal yang terjadi di dalam hidup dan dapat anda pengaruhi. Kemudian, ada Circle of Concerns, berupa lingkaran setelah circle of influence, yaitu berbagai hal atau kejadian yang terjadi di luar kendali/kehendak anda, namun hal ini memberikan dampak bagi kehidupan anda. Dapat dikatakan kalau semua hal yang anda khawatirkan, kecemasan akan masa depan, akan dimasukkan ke dalam lingkaran tersebut. Jika semakin banyak, maka akan semakin penuh dan membesar lingkarannya. 

Seringkali anda, kita, tanpa sadar lebih banyak memasukkan hal-hal yang tahu pasti tidak dapat dikendalikan. Terkadang hal tersebut terjadi secara otomatis. Misalkan sebagai pekerja atau pelajar/mahasiswa, apakah bisa anda mengendalikan dan mengatur sesuai keinginan anda tentang aturan perusahaan yang terus berubah, suasana hati pembimbing skripksi maupun atasan anda, inflasi harga, perubahan uang sekolah/kuliah, teman/rekan kerja yang tidak suka dengan anda dan terus mengeluhkan mengenai kinerja anda maupun orang lain ?. Yakin banyak yang akan menjawab Tidak dan akan sulit. Hal-hal ini yang merujuk pada istilah Circle of Concerns, merupakan segala sesuatu yang terjadi di kendali anda, sulit untuk dirubah, namun dapat memberikan pengaruh pada hidup maupun karir. Semakin banyak hal yang dikhawatirkan, semakin muncul kecemasan bahkan berujung pada stres yang anda alami. Dampaknya langkah pengambilan keputusan atau pelaksanaan resolusi/rencana bisa jadi terhambat. 

Selanjutnya, Covey juga bicara mengenai Circle of Influence. Dalam bahasa sederhana, Circle of influence merupakan sesuatu yang terjadi dalam hidup dan bisa anda pengaruhi, sekaligus bisa anda pengaruhi. Semakin kita berusaha mengendalikan Circle of concerns, maka semakin kita juga semakin kecil kemungkinan dapat mengatur Circle of influence dan Circle of control. Hal ini dapat terjadi karena kita hanya fokus pada hal-hal yang menjadi kekhawatiran kita. Tidak semuanya bisa kita kendalikan bukan ? Ada ahli psikologi yang mengatakan bahwa kendali diri berasal dari rasa cemas bahwa semuanya ingin berada di genggaman kita. Saat kita memegang kendali rasa aman dan nyaman akan muncul karena tahu pasti apa yang akan terjadi. Saat muncul ketidakpastian dan perubahan, maka diri kita akan mulai mencari cara untuk mengendalikannya agar kembali muncul rasa aman dan nyaman tersebut. Namun, ada ahli filsafat juga yang bilang bahwa segala sesuatu yang terlalu nyaman pasti akan membuat orang lengah. Saat lengah tersebut baru menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan sepenuhnya. 

Jadi bukankah akan lebih bahagia jika kita fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan melepaskan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Betul. Tepat sekali. Hanya saja, teori memang lebih mudah dibandingkan prakteknya. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin hal itu bisa terjadi. Bisa anda latih dan kembangkan, sampai dengan akhirnya kita benar-benar fokus pada hal-hal yang bisa anda kendalikan. Hal inilah yang akan membawa anda pada circle of control

Apa saja yang sebenarnya bisa kita kendalikan ? Mengendalikan sebenarnya memilih. Jadi kita dapat memilih hal apa saja yang mau kita lakukan, pikirkan, dengarkan, utarakan, dan seterusnya. Mulai dari kita menyadari terlebih dahulu hal-hal yang ada di sekitar kita. Beberapa tahun lalu sudah ramai dibicarakan mengenai membangun kesadaran melalui visualisasi grounding. Maksudnya adalah membangun kesadaran diri akan hal-hal yang kecil dan fokus pada apa yang mau kita dengarkan, kecap, hirup, lihat, dan sentuh, dapat membantu kita mengarahkan pada kendali yang diinginkan. Setelah anda mulai hadir sepenuhnya, maka pengambilan kendali untuk keputusan yang lebih baik akan mulai terasa. Semua hal tersebut menjadi tanggung jawab anda. 

Sama halnya seperti menyetir mobil, kita cari posisi yang nyaman dengan mengatur bangku agar pas dengan jenjang kaki dan raihan tangan pada kopling. Kemudian, kita mulai menyetel kaca spion, menaruh tumbler, tas, handphone, memasang GPS, dan sebagainya untuk memastikan kita siap untuk berkendara sampai tujuan. Terkadang prosesnya sebentar, kadang bisa lama apalagi kalau kita harus menerima telepon atau membalas chat yang sudah menanti. Namun, saat kita siap dan fokus memegang kendali setir dan mulai menyalakan mobil, maka kita siap memegang kendali serta bertanggung jawab terhadap cara menyetir mobil tersebut. Demikian juga dengan kehidupan sehari-hari. 

Beberapa ahli menyarankan untuk dapat melatih proses memegang kendali, berarti memperluas circle of influence dan circle of control kita. Pertama, fokus pada hal kecil yang memang bisa kita lakukan. Misalnya, kita khawatir akan datangnya aturan pajak terbaru atau inflasi setelah pemilu. Maka jika kita reaktif maka cenderung akan menimbun barang di rumah atau mulai lebih teliti menghitung pendapatan dari slip gaji. Namun, jika proaktif maka kita cenderung akan mencari informasi terlebih dahulu yang memang valid kemudian mulai diskusi dengan pasangan atau ahli agar tidak mudah ikut arus. Kedua,  tanyakan kepada diri ‘kenapa’ dan ‘hal apa yang bisa dilakukan lebih baik’. Dalam arti alternatif keputusan apa yang bisa diambil saat hal awal gagal. Seringkali saat gagal atau tidak berhasil melaksanakan target, maka lebih banyak hadir rasa bersalah dan pada akhirnya bisa menyalahkan orang lain. Hal ini yang harus di stop. Mulailah susun rencana baru dan melakukannya secara bertahap. 

Perlu diingat juga bahwa menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pembelajaran memang penting, agar tidak mengulangi hal yang sama. Namun, saat yang teringat adalah masa lalu maka kecenderungan kita adalah mengulang kesalahan yang sama karena terlalu cemas. Yakinkan diri dengan fokus pada hal yang bisa dikendalikan. Contohnya, saat berhadapan dengan rekan kerja yang mengeluh terus atau menyebalkan di masa lalu dan sekarang diharuskan untuk bekerja sama dalam satu tim oleh atasan. Menggunakan circle of control, maka anda akan fokus pada sikap anda, menyadari dan mengelola emosi yang hadir agar tidak mudah terpancing, dan mengendalikan tindakan juga perkataan yang akan diekspresikan agar tidak membuat situasi semakin rumit.

Mengatur circle of control dapat membuat diri berubah dari yang awalnya reaktif menjadi proaktif,  untuk mencari solusi yang efektif dan berani bertanggung jawab atas pengambilan keputusan yang diambil. Mari mulailah menjadi proaktif dengan mengaktifkan circle of control anda.