MENUMBUHKAN RESILIENSI PADA ANAK
Ristriarie Kusumaningrum, M.Psi ., Psikolog (ruangtumbuh.id)
Semakin banyak tantangan yang dihadapi oleh anak. Setiap generasi pasti akan menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Generasi terdahulu bisa saja menganggap generasi sekarang memiliki kemudahan dalam segala hal, terutama teknologi dan sarana prasarana. Di sisi lain, generasi sekarang berpikir kalau generasi sebelumnya tidak memahami tantangan dan stresor yang mereka hadapi. Kondisi ini yang apabila dibawa ke dalam situasi keluarga dapat memunculkan konflik, dikarenakan salah satunya perbedaan generasi dan cara pandang.
Sebagai orangtua tentu saja, ingin memberikan segala sesuatu yang terbaik bagi anak-anaknya dan keluarga. Menjadi orangtua memang tidak ada buku panduan pasti. Setiap orangtua berusaha mempelajari, mencari ilmu baru, diskusi, konsultasi, dan sebagainya agar mereka tahu kalau pola asuh yang mereka berikan sudah tepat dan dapat membantu anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang resilien. Salah satu faktor yang bisa membantu terbentuknya resiliensi pada anak merupakan pola hubungan antara orangtua dan anak.
Resiliensi dipandang sebagai bentuk daya juang dan daya tahan, bisa bangkit kembali setelah mengalami kegagalan. Kemampuan untuk mengatasi perubahan yang sangat mengganggu, mempertahankan kesehatan dan energi yang baik saat berada di bawah tekanan yang terus-menerus, lentur saat mengalami kemunduran, dapat mengatasi kesulitan, dengan mengubah cara hidup dan cara kerja ketika cara yang lama sudah tidak efektif lagi, tanpa berada pada keadaan yang membahayakan diri merupakan beberapa hal yang menandakan seseorang yang resilien (Garmezy & Masten, 1991; Siebert, 2005). Individu yang resilien merupakan seseorang yang aktif berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan yang positif bagi dirinya.
Berdasarkan hasil penelitian terbaru, ada dua faktor utama yang mempengaruhi resiliensi yaitu faktor eksternal dan internal. Tentu saja faktor eksternal dapat berasal dari lingkungan dan kualitas hubungan dengan orang lan, termasuk pola asuh yang diterapkan. Kemudian untuk faktor internal berkaitan dengan unsur biologis dan psikologis.
Pola asuh yang seperti apa sebenarnya yang bisa membantu terbentuknya resiliensi pada anak. Dr.Ginsburg, seorang ahli perkembangan dan dokter anak, menyebutkan ada 7 komponen yang saling berkaitan dalam membentuk resiliensi
1. Kompetensi
Saat anak memiliki keterampilan untuk menghadapi tantangan dan kesempatan untuk menangani masalah tersebut, maka kompetensi dalam diri anak mulai terbentuk. Anak yang memiliki kompetensi yang baik, merupakan sosok anak yang dapat menangani situasi yang membuat stres dengan efektif. Orangtua dapat membantu dengan memvalidasi emosi yang dialami dan memberikan panduan atau arahan tentang beberapa opsi yang bisa dilakukan. Berikan kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan, meskipun salah maka ada proses pembelajaran dari hal tersebut yang bisa menjadi bahasan diskusi orangtua bersama anak.
2. Rasa Percaya Diri
Anak memiliki rasa percaya diri terhadap kemampuan dan kompetensi dirinya. Saat ia yakin kalau dirinya bisa meraih hasil yang terbaik, maka hal tersebut dapat diwujudkan. Orangtua dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dengan memberikan contoh langsung dalam keseharian. Memberikan pujian, memperhatikan perilaku positifnya, dan mendorong untuk mencoba hal baru, dan sebagainya, merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan.
3. Koneksi
Anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang hangat dan memiliki kelekatan positif terhadap keluarga, teman, maupun lingkungan, merupakan sosok yang dapat memiliki rasa aman dan nyaman yang kuat. Menjalin kedekatan yang mengarah pada kelekatan positif dapat dilakukan sejak dini oleh orangtua. Melakukan kegiatan bermain, berolahraga, maupun melakukan hobi bersama merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan sejak dini. Membuka komunikasi dua arah dan berusaha menjadi pendengar yang baik, turut memberikan kontribusi yang besar dalam membentuk koneksi kedekatan yang positif.
4. Karakter
Anak yang memiliki keyakinan akan prinsip dan nilai-nilai positif yang diperoleh dari keluarga dapat membuat dirinya menjadi sosok yang percaya diri dan mengetahui batasan yang sesuai dalam berperilaku. Orangtua dapat berperan sebagai sosok yang memberikan wawasan dan penguatan akan nilai-nilai dalam keluarga, membantu menjelaskan kepada anak tentang pentingnya memberikan batasan terhadap pengaruh yang buruk, serta menumbuhkan empati pada anak melalui contoh nyata.
5. Kontribusi
Saat anak merasa dirinya bisa memberikan kontribusi terhadap keluarga maupun lingkungan, maka anak akan memiliki konsep berpikir bahwa dunia merupakan tempat yang aman dimana mereka bisa memberikan kontribusi lebih. Mengucapkan terima kasih dan pujian terhadap anak atas pencapaian mereka, dapat menumbuhkan rasa percaya terhadap kompetensi diri, membangun karakter, dan lebih aktif dalam memunculkan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam lingkungan.
6. Coping
Saat anak merasa dirinya bisa memberikan kontribusi terhadap keluarga maupun lingkungan, maka anak akan memiliki konsep berpikir bahwa dunia merupakan tempat yang aman dimana mereka bisa memberikan kontribusi lebih. Mengucapkan terima kasih dan pujian terhadap anak atas pencapaian mereka, dapat menumbuhkan rasa percaya terhadap kompetensi diri, membangun karakter, dan lebih aktif dalam memunculkan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam lingkungan.
7. Kontrol/Kendali
Saat anak memiliki kendali akan apa yang dia lakukan dan keputusan yang diambil, maka anak akan dapat merancang kembali hal yang perlu dilakukan agar dirinya bisa bangkit kembali. Orangtua dapat membantu dengan memberikan kepercayaan kepada anak untuk mandiri. Berikan tanggung jawab secara bertahap pada anak dalam keseharian di rumah.
Tingkat dari resiliensi seseorang dapat bervariatif. Jadi seseorang bisa saja resilien pada situasi tertentu tetapi tidak pada situasi lainnya dan resilien dapat berubah sepanjang waktu dan berdasarkan situasi yang ada. Memiliki cara pandang yang positif merupakan salah satu hal yang menonjol dari seseorang yang resilien. Seseorang perlu mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut agar dapat melakukan segala sesuatu yang terbaik untuk diri sendiri maupun orang lain. Kerjasama dan dukungan dari orangtua sampai dengan keluarga besar pun penting peranannya dalam membentuk resiliensi pada anak. Resiliensi tidak bisa terbentuk dalam waktu singkat, namun membutuhkan proses dan waktu. Maka, memulai sejak awal dan segera merupakan salah satu pilihan yang terbaik dapat dilakukan orangtua dalam membentuk anak menjadi sosok yang resilien.
Selamat Bertumbuh…